Senin, 11 Agustus 2014

Umur 82 Tahun, Hafal Al Qur’an


Umur 82 Tahun, Hafal Al Qur’an




umur 82 Umur 82 Tahun, Hafal Al Quran
UMMU Shalih. 82 tahun, mulai menghafal Al-Qur’an pada usianya yang ke-70. Tamasyanya ke taman hafalan Al-Qur’an, sungguh sangat menginspirasi. Cita-citanya yang tinggi, kesabaran, dan juga pengorbanannya patut kita teladani.
Inilah hasil wawancara dengan Ummu Shalih yang dimuat Majalah Ad-Dakwah di Malaysia.
Motivasi apa yang mendorong Anda untuk menghafalkan Al-Qur’an pada umur yang setua ini? 
Sebenarnya, cita-cita saya untuk menghafal Al-Qur’an sudah tumbuh sejak kecil. Kala itu ayah selalu mendoakanku agar menjadj hafizhah Al-Qur’an seperti beliau dan juga seperti kakak laki-lakiku. Dari hal itulah, aku mampu menghafal beberapa surat —kira-kira 3 juz.
Ketika usiaku menginjak 13 tahun, aku menikah. Tentu setelah itu aku tersibukkan dengan urusan rumah dan anak-anakku. Ketika aku dikaruniai 7 (tujuh) orang anak, suamiku wafat. Karena ketujuh buah hatiku masih kecil-kecil, maka seluruh waktuku tersita untuk mengurusi dan mendidik mereka.

Nah, ketika mereka sudah dewasa dan berkeluarga, maka waktu ku pun kembali luang. Dan hal yang pertama kali aku tunaikan adalah mencurahkan tenaga dan waktuku untuk mewujudkan cita-cita agungku yang tertunda untuk menghafal Kitabullah Azza wa Jalla.
Bagaimana awal perjalanan Anda dalam menghafal?
Aku mulai menghafal kembali ketika putri bungsuku masih duduk di bangku Tsanawiyah (SMP). Dia salah satu putriku yang paling dekat denganku, dan dia sangat mencintaiku. Sebab kakak-kakak perempuannya telah menikah dan disibukkan dengan kehidupan baru mereka. Sedangkan, dia (putri bungsuku) tinggal bersamaku. Dia sangat santun, jujur, dan mencintai kebaikan.

Putri bungsuku pun bercita-cita untuk menghafal Al-Qur’an—terlebih ketika ustadzahnya menyemangati dirinya. Dari sinilah, saya dan juga putri bungsuku menghafal Al-Qur’an, setiap hari 10 ayat.
Bagaimana metode yang Anda gunakan untuk menghafal?
Setiap hari, kami hanya menghafal 10 ayat saja. Pada ba’da Ashar, Kami selalu duduk bersama. Putriku membaca ayat, kemudian aku menirukannya hingga 3 (tiga) kali. Setelah itu putriku menerangkan makna dari ayat-ayat yang Kami baca. Lantas membaca kembali ayat-ayat tersebut hingga 3 (tiga) kali.
Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah putriku mengulangi ayat-ayat tersebut untukku. Tak cukup itu saja, saya pun menggunakan tape recorder untuk mendengar murattal Syaikh Al-Hushairi, dan aku mengulanginya hingga 3 (tiga) kali. Aku pun mendengar murattal tersebut pada sebagian besar waktuku.

Kami menetapkan hari Jum’at, khusus untuk mengulangi kembali ayat-ayat yang kami hafal selama satu pekan. Demikian seterusnya, saya dan putri bungsuku selalu menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara tersebut.
Kapan Anda selesal menghafal seluruh Al-Qur’an?
Kira-.kira 4,5 tahun berjalan aku sudah hafal 12 Juz dengan cara yang telah saya sebutkan. Kemudian putriku pun menikah. Ketika suaminya mengetahui kebiasaan kami, dia pun mengontrak sebuah rumah yang dekat dengan rumahku untuk memberikan kesempatan kepadaku dan putriku untuk menyempurnakan hafalan kami.

Semoga Allah membalas kebaikan menantuku dengan kebaikan yang lebih baik. Dialah yang selalu menyemangati kami, bahkan terkadang dia menemani kami untuk menyimak hafalan kami, menafsirkan ayat-ayat yang kami baca, dan juga memberikan pelajaran-pelajaran berharga kepada kami.

Tiga tahun kemudian, putriku tersibukkan dengan urusan anak-anaknya dan pekerjaan rumahnya. Sehingga tidak bisa melazimi kebiasaan yang telah kami jalani. Putriku pun merasa khawatir hafalanku menjadi terbengkalai. Maka, putriku pun mencarikan untukku seorang ustadzah agar dapat menemaniku menyempurnakan hafalanku.

Dengan taufik Allah Azza Wajalla aku pun telah purna menghafalkan seluruh Al-Qur’an. Semangat putriku pun masih membara untuk menyusulku menjadi hafizhah Al-Qur’an. Bahkan, tidak mengendur sedikit pun.
Cita-cita Anda sangat tinggi, dan Anda pun telah mewujudkannya. Siapakah sosok wanita di sekitar Anda yang selalu mendukung Anda?
Motivasi saya telah jelas dan terang. Putri-putriku, juga para menantu perempuanku pastinya selalu mendukungku. Walau hanya satu jam, kami sepakat untuk mengadakan pertemuan sepekan sekali. Dalam pertemuan itu kami menghafal beberapa surat, dan saling menyimak hafalan. Terkadang pertemuan itu pun macet. Tetapi kemudian mereka bersepakat kembali untuk bertemu. Saya yakin, niat mereka semua sangat baik.
Tak ketinggalan pula, cucu-cucu perempuanku yang selalu memberikan kaset-kaset murattal Al-Qur’an. Hingga aku pun selalu memberi mereka bermacam-macam hadiah.

Awalnya, tetangga-tetanggaku juga tidak simpatik dengan cita-citaku. Mereka selalu mengingatkanku betapa sulitnya menghafal di usia yang daya ingatnya telah lemah. Tetapi ketika mereka melihat kebulatan tekadku, akhirnya mereka pun berbalik mendukung dan menyemangatiku. Ada di antara tetanggaku yang juga ikut tersulut semangatnya untuk menghafal, dan sedikit demi sedikit hafalannya pun mulai bertambah.

Ketika tetangga-tetanggaku mengetahui bahwa aku telah purna menghafal seluruh Al-Qur’an, mereka pun sangat berbahagia. Hingga kulihat air mata bahagia menetes di pipi mereka.
Sekarang, apakah Anda merasa kesulitan untuk muraja’ah (mengulangi) hafalan?
Saya selalu mendengarkan murattal Al-Qur’an, dan menirukannya. Demikian juga ketika shalat, saya selalu membaca beberapa surat panjang. Terkadang pula saya meminta salah seorang putriku untuk menyimak hafalanku.
Di antara putra-putri Anda, adakah yang juga hafizh seperti Anda?
Tak ada satu pun dari mereka yang hafal keseluruhan Al-Qur’an. Tetapi, insya Allah mereka selalu berusaha mencapai cita-cita menjadi hafizh. Semoga Allah menyampaikan mereka pada hal tersebut dengan bimbingan-Nya.
Setelah hafal Al-Qur’an, tidak terpikirkan untuk menghafal hadits?
Saat ini, saya telah hafal 90 hadits, dan saya tetap berkeinginan untuk melanjutkannya, Insya Allah. Saya menghafalnya dengan mendengarkan dari kaset. Pada setiap akhir pekan, putriku membacakan untukku 3 (tiga) hadits. Sekarang, saya telah mencoba untuk menghafal hadits lebih banyak lagi.
Setelah kurang lebih 12 tahun Anda disibukkan dengan menghafal Al-Qur’an, perubahan apa yang Anda rasakan dalam kehidupan Anda?
Benar, saya merasakan perubahan yang mendasar dalam diri saya. Walau sebelum menghafal–untuk Allah segala pujian—saya selalu menjaga diri untuk senantiasa dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Setelah disibukkan dengan menghafalkan Al-Qur’an, justru saya merasakan kelapangan hati yang tak terkira, dan sirnalah seluruh kecemasan dalam diriku. Saya pun tidak pernah menyangka akan terbebas dari perasaan khawatir terhadap urusan-urusan yang menimpa anak-anakku.
Moral dan spiritku benar-benar terangkat. Hingga aku pun rela berpayah-payah untuk mewujudkan kerinduanku dalam mewujudkan cita-citaku. Inilah nikmat terbesar yang diberikan oleh Sang Khaliq Azza Wajalla kepadaku sebagai wanita tua, suami pun telah tiada, dan juga anak-anaknya pun mulai berkeluarga.
Di saat wanita lanjut usia lainnya terjebak dalam angan-angan dan lamunan. Tetapi aku —segala puji hanya untuk Allah— tidak merasakan hal yang demikian. Saya benar-benar tersibukkan dengan urusan besar yang memiliki faedah di dunia dan akhirat.
Ketika itu, apakah Anda tidak berpikir untuk mendaftarkan diri pada sebuah pesantren penghafal Al-Qur’an?
Pernah beberapa wanita yang mengusulkan kepadaku, tapi saya adalah wanita yang terbiasa untuk berdiam diri di dalam rumah dan jarang sekali keluar rumah. Alhamdulillah, karena putriku telah mencukupi segalanya dan membantuku dalam segala urusan. Sungguh, putriku benar-benar tidak ada duanya. Aku pun telah banyak mengambil pelajaran darinya.
Apa saran Anda kepada wanita yang telah lanjut usia, dan menginginkan untuk dapat menghafalkan Al-Qur’an, tetapi terhalang oleh rasa khawatir dan merasa tidak mampu untuk melaksanakannya?
Saya katakan, “Jangan berputus asa terhadap cita-cita yang benar. Teguhkanlah keinginanmu, bulatkan tekadmu, dan berdoalah kepada Allah di setiap waktu. Kemudian, mulailah sekarang juga. Setelah umurmu berlalu dan kau curahkan seluruhnya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga, mendidik anak, dan mengurus suami. Maka sekarang saatnyalah Anda memanjakan diri. Bukan berarti kemudian memperbanyak keluar rumah, memuaskan diri dengan tidur, bermewah-mewah, dan banyak beristirahat. Tetapi memanjakan diri dengan amal shalih. Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita memohon khusnul khatimah.
Nasihat Anda terhadap para remaja?
Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Nikmat Allah berupa kesehatan, dan banyaknya waktu luangmu, maksimalkanlah untuk menghafal kitab Allah Azza Wa Jalla. Inilah cahaya yang akan menyinari hatimu, hidupmu, dan kuburmu setelah engkau mati.
Jika kalian masih memiliki ibu, bersungguh-sungguhlah dalam membimbingnya menuju ketaatan kepada Allah. Demi Allah, tidak ada nikmat yang lebih dicintai seorang ibu kecuali seorang anak shalih yang mau menolongnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla.
[Koin untuk penghafal qur'an]



Ibu-Ibu Lanjut Usia Belajar Al Qur’an

Ibu-Ibu Lanjut Usia Belajar Al Qur’an


Ibu-Ibu Lanjut Usia Belajar Al Qur’an
HEADLINE NEWS
0
KAB. BANDUNG, KACAMATASEJATI – Belasan ibu-ibu rumah tangga lanjut usia (Lansia) melakukan program kegiatan belajar membaca Al qur’an di Masjid Al hidayah di Kampung Kiarasanding, RT 03 RW 11, Desa Pulosari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Anwar Sanusi (44), perintis Kampung Quran mengaku program tersebut diawali dari keprihatinannya saat gempa melanda Pangalengan. Saat itu banyak warga yang saling berebut mendapat bantuan. Di sisi lain banyak warga yang mulai sadar untuk lebih dekat dengan Allah.
“Saya lalu memprakarsai program ini. Korban gempa terutama yang dekat dengan rumah, saya ajak untuk mendekatkan diri. Ternyata masih banyak warga yang belum bisa baca Quran. Bahkan banyak diantaranya berasal dari kalangan dewasa,” ujar Anwar ketika ditemui di Kampung Kiarasanding, Selasa (8/7).
Menurut Alumni IAIN Sunan Gunung Djati Bandung itu kemudian memikirkan konsep Kampung Quran untuk menyatukan warga. Masjid Rohmatul Ummah di Kampung Kebonjambu menjadi tempat pertama kegiatan Kampung Quran dijalankan. Menginjak tahun ke empat Anwar berhasil menyebarkan program tersebut hingga ke empat desa.
“Untuk belajar mengaji itu saya bagi-bagi kelompoknya. Bagi yang dewasa akan dipisahkan dengan anak-anak. Karena faktor psikologis juga harus diperhatikan. Ditakutkan yang dewasa malu belajar jika disatukan dengan anak-anak,” katanya.
Di bulan biasa, kata Anwar, kegiatan tadarus hanya dilakukan seminggu sekali. Namun di bulan Ramadan kegiatan tadarus dilaksanakan satu minggu tiga kali hingga setiap hari. Ada tiga tahapan untuk mengajarkan membaca Alquran. Pertama Iqra atau bagi yang baru belajar membaca. Kedua membaca Quran bagi yang sudah mulai lancar dan yang terakhir Lafadiyah yakni menerjemahkan ayat Quran per kata.
“Program ini pertama kali dilaunching pada 26 Desember 2009 dibantu Daarut Tauhid. Alhamdulilah sekarang ini sudah banyak bantuan. Bahkan dari Pangdam 3 Siliwangi juga beri 100 Alquran,” kata Anwar.
Menurut Anwar sekitar 60 persen warga masih banyak yang belum bisa membaca. Dari jumlah tersebut sebagian besar dihuni kalangan dewasa. Anwar bertekad jika Kecamatan Pangalengan bisa dikenal sebagai Kampung Quran selain sebagai daerah penghasil susu sapi.
“Inginnya semua umat Islam bisa baca Quran. Saya juga mempunyai keinginan jika di Pangalengan bisa jadi tempat wisata religi berbasis kesehatan. Pangalengan bisa dikenal Indonesia sebagai wilayah religi karena dikenal dengan Kampung Quran,” ujar Anwar.
Program Kampung Quran tersebut juga mulai merambah wilayah lain. Daerah kelahiran Anwar di Jampang Kulon, Sukabumi kini mulai membuka program Kampung Quran. (RTH/KS)

Menghafal Al-Qur'an di usia lanjut

Resep Prof.Dr.Kudang Boro Menghafal Alquran Di Tengah Kesibukan & Usia Lanjut


Faktor usia dan kesibukan bukan halangan untuk belajar dan menghafal Alquran. Sosok yang satu ini telah membuktikannya. Adalah Prof.Dr Kudang Boro Seminar, M.Sc. Guru Besar Teknik  Teknologi Komputer Institut Pertanian Bogor (IPB) ini punya kesabaran dan komitmen yang patut dicontoh. Ia menceritakan bagaimana ia memulai belajar menghafal Al Quran di usia 40 tahun.

KUDANG memulai dari cerita saat ia pertama kali kuliah S1 di IPB jurusan pertanian pada 1979. Di awal kuliah, ia ikut ujian tulis mata kuliah Agama Islam. Saat itu ada soal hanya diminta menuliskan surat Al Fatihah. “Saya nggak kerjakan. Jadi selama setengah jam saya diam saja,” tuturnya.

Kudang mengaku sejak kecil ia hanya mendapat pendidikan agama hanya di sekolah SD, SMP dan SMA dan Perguruan Tinggi (IPB), sedangkan di rumah belum tumbuh pendidikan agama Islam di lingkungan keluarga. “Orang tua saya baru masuk Islam setelah saya menyelesaikan tingkat persiapan bersama (akhir semester II pada 1980). Sejak SD-SMA, saya hanya ikut-ikutan saja mengikuti pendidikan agama Islam. Setelah menikah, baru saya belajar membaca al-Qur’an  dari istri yang lebih lebih mahir dari saya,” ungkap pria kelahiran Jember, 18 November 1959 ini.

Awalnya ia merasa cukup belajar mengaji al-Quran kepada sang istri. Kemudian ia mendapat kesempatan studi S2 dan S3 di Kanada pada 1986. “Saya sempat depresi di awal-awal tinggal di Kanada. Jauh dari anak istri. Lalu kultur yang sangat berbeda dengan Indonesia. Belum lagi, ilmu yang saya pelajari menyimpang dari disiplin ilmu sebelumnya. Sarjana saya pertanian. Tapi di Kanada saya memperdalam komputer,” akunya saat bercerita di hadapan jamaah Masjid Ar Rahmah Jln. Teluk Buli Surabaya (12 Januari 2013) lalu.

Alquran=Software Hidup
Dia melihat dekadensi moral yang parah di negeri bagian utara benua Amerika itu. “Saya pernah diminta hadiri pernikahan warga asli. Ternyata mereka sudah tinggal serumah selama delapan tahun sebelum pernikahan. Hidup bebas antara pria dan wanita serta dijual dan digunakannya alat-alat kontrasepsi secara terbuka memang menyuburkan hubungan pria wanita tanpa ikatan pernikahan. Kultur yang serba bebas seperti ini membuat saya stres,” lanjutnya.

Ia kemudian mengibaratkan kehidupan manusia seperti komputer yang baru bisa berfungsi jika dipasang Sistem Operasi atau Operating System (OS) seperti Windows atau Linux. Tanpa OS, komputer ibarat bangkai piranti keras yang tidak bermanfaat. Tingkat kualifikasi dan kehandalan sebuah komputer sangat bergantung pada OS-nya. Semakin handal dan canggih OS-nya, semakin tinggi pula pula kinerja komputer itu.

Jika komputer saja yang merupakan artifak (ciptaan manusia) memerlukan OS, maka tentu manusia sebagai ciptaan (makhluk) Allah memerlukan OS yang jauh lebih handal dan komprehensif. Agar manusia itu bisa menjalankan fungsinya sesuai kehendak Pencipta-nya. “Lalu apakah sistem operasi untuk manusia? Tidak lain adalah agama yang ditetapkan oleh Allah swt. yang termaktub dalam Kitabullah (al-Quran) dan sunnah Rasulullah saw,” bebernya.

Tanpa sistem operasi, itu manusia ibarat hewan (akhlak & perilakunya), seperti firman-NYA, “...Mereka itu ibarat binatang ternak, bahkan lebih buruk lagi...” (QS. Al A'Raaf (7):179). Kualifikasi (kemuliaan) manusia di mata Allah tergantung pada seberapa besar muatan agamanya tertanam atau ter-install pada dirinya,” ulasnya.

Dengan itulah ia bertekad untuk memperdalam agama Islam yang inti sarinya ada di al-Qur’an dan as-Sunnah. Ia mengutip firman, “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim kecuali kerugian” (QS. Al Isra 82). 

Pucuk di cinta ulam tiba. Di Kanada, ia kenal dengan seorang hafidz Al Quran asal Sudan. “Namanya Yahya Fadhlala. Dia kokoh dalam beragama dan telah menikah dengan warga asli Kanada yang telah terbimbing berbusana dan berbudaya muslimah. Malah istrinya itu lebih islami ketimbang kebanyakan muslimah Indonesia saat itu. Hal ini menambah motivasi bagi saya untuk belajar agama darinya,” ungkapnya.

Ia pun mulai belajar membaca al-Qur’an dari Yahya. Di situlah ia benar-benar merasakan perombakan bagaimana membaca Alquran yang benar dengan berbagai tingkat kesulitan ia hadapi. Karena bacaan yang ia miliki sebelumnya harus banyak dikoreksi. “Saya semakin intensif belajar tidak saja al-Qur’an tetapi masalah agama yang lain.  Ia bersyukur justru di Kanada yang Islamnya sangat minoritas justru kesempatannya besar memperdalam agama,” jelasnya.

Pada 1993, Kudang kembali ke tanah air. Semangat belajar Alquran masih sangat kuat hatinya. Ia pun mencari guru di Jakarta. Dan dengan izin-Nya. “Saya bertemu dengan Ustadz KH Ahmad Musyaffa, Alhafidz. Beliau punya sembilan saudara (laki dan perempuan) yang kesemuanya hafal Alquran,” jelasnya.

Kudang merasa nyaman belajar dengan guru baru ini. “Karena saya diperlakukan bukan seperti santri reguler. Saya diberi keringanan dan keleluasan waktu untuk belajar. Mungkin Ustadz Musyafffa mempertimbangkan kalau saya punya profesi dan kesibukan sebagai pengajar dan PNS. Jadi ya diberi diskon,” ucapnya sambil tersenyum.

“Ustadz Musyaffa bilang jam berapa saja saya mau datang ke rumahnyadi Jakarta, beliau siap menerima saya. Pulang ngajar jam 9 malam atau bahkan jam 12 malam, beliau dengan sabar dan tulus menerima. Saya pun tidak menyia-nyiakan kemudahan ini,” kenangnya.

4 Resep Jitu
Ia membocorkan sejumlah resep belajar Alquran yang ia dapat dari gurunya itu. Pertama, belajar Alquran -baik membaca apalagi menghafal- harus berguru. Kedua, musti sabar tidak tergesa-gesa. Ketiga, mohon kepada Sang Pemilik kalimat al-Qur’an, yaitu Allah swt.

Ketiga resep itu, termaktub di ayat 16-19 surat Al Qiyamah. “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya.”

Saat menghafal Alquran, sambungnya, kita harus benar-benar patuh atas perintah guru. “Di sini kesabaran itu diuji. Misalnya sebelum menghafal saya disuruh membaca dengan melihat kitab dan didengar serta dikoreksi bacaan saya hingga 30 juz, dan itu berlangsung sekitar 3 tahun baru saya diperbolehkan mulai menghafal al-Qur’an.  Saya ikuti saja perintah guru,” ujarnya.

Kesabaran ektra sangat dibutuhkan saat menghafal. “Di ayat 16, Allah melarang Nabi saw tergesa-gesa menghafal. Beliau diperintah untuk taat mengikuti Jibril. Karena yang membuat kita hafal dan memperkokoh hafalan itu adalah Allah. Itu janji Allah yang tersurat di ayat 17. Jika Nabi saja dilarang terburu-buru, apalagi kita. Dengan demikian, kepatuhan terhadap guru dan kesabaran kita mengundang pertolongan Allah. Lalu kita berdoa kepada Allah untuk memberi kekuatan menghafal dan menjaganya,” urainya.

Kudang telah membuktikan janji Allah ini. Setelah 4 tahun membaca bin nadzor (melihat lembaran bukan menghafal), ia mulai menghafal. “Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan satu putaran (khatam) dalam 5 tahun. Padahal saat itu saya sudah usia 45 tahun lebih. Dua hari sekali dari Bogor saya ke Jakarta untuk menghadap ustadz. Kalau ada kegiatan kampus atau lainnya, saya usahakan ganti di lain hari,” ucapnya.

“Saat ini saya sudah putaran ketiga,” jelasnya. Mempertahankan bacaan adalah tugas yang terberat. “Kuncinya menyediakan waktu untuk menderes bacaan & hafalan sebanyak dan serutin mungkin dan sekuat menjaga diri dari perbuatan maksiat, itu pesan guru saya. Al-Qur’an adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah kegelapan. Tak mungkin keduanya bisa bersatu,” tegasnya.

Ada yang Lebih Tua
Resep terakhir yang ia beberkan adalah memperbanyak hadir dalam majelis Al-quran. “Kita perlu sesering mungkin ikut acara khataman atau majelis Al-quran,” katanya. Atas nasihat gurunya, Kudang mencoba menerapkan acara pengajian & khataman al-Quran tiap pekan sekali di kampus. “Alhamdulillah ternyata ada mahasiswa, dosen dan pegawai yang tertarik dan termotivasi untuk belajar al-Quran bahkan ada yang sampai menghafalnya,” ungkapnya.

“Yang pasti membaca dan mendalami Alquran jangan sampai luntur. Dengan banyak ikut halaqah Al quran akan menambah semangat. Usia bukan halangan untuk menghafal Alquran 30 juz. Saya tidak pedulikan usia, pokoknya terus belajar. Guru saya menceritakan ada seorang ibu yang  mulai belajar menghafal di usia 50 tahun. Dan alhamdulillah dia mampu walau memerlukan 15 tahun,” pungkasnya.

Kita perlu yakin dengan firman-Nya, “Kami telah memudahkan al-Qur'an untuk dipelajari. Maka adakah orang yang mau mempelajarinya?" Ayat itu diulang sebanyak 4 kali di surat al-Qamar, yaitu di ayat 17,22,32, & 40. “Ini menunjukkan penekanan dan dorongan kuat kepada kita bahwa al-Quran dijadikan mudah untuk dipelajari, asalkan  bersungguh-sungguh, istiqomah, dan tertib mengikuti prosedur yang benar,” pungkasnya.{}

PROFIL SINGKAT
Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, M.Sc

Guru Besar bidang Teknologi Komputer di Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) dan Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FAMIPA), IPB.

Menyelesaikan studinya pada strata S1 di IPB tahun 1983, dan strata S2 serta  S3 di Faculty of Computer Science University of New Brunswick Canada pada tahun 1989 dan 1993.  Bidang riset yang ditekuni mencakup Information Engineering, Software Engineering, Intelligent Systems, Distance Learning, Internetworking, Computer-Based Instrumentation & Control Systems.

Sejak menyelesaikan studi doktornya, mendapat amanah untuk menjadi Ketua Departemen Teknik Pertanian IPB (1997-2000), Ketua Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Keteknikan Pertanian IPB (2000-2003), Kepala Bagian (Lab) Ergotron( 2008-kini), Kepala Perpustakaan IPB (2003-2007), dan Direktur Komunikasi dan Sistem Informasi IPB (2007-kini).

Terlibat dalam tim desain & implementasi pembentukan Departemen Ilmu Komputer IPB, Program Studi Magister Komputer IPB, Program Studi Manajemen Teknologi Informasi untuk Perpustakaan IPB, pembukaan program Doktoral Jalur Riset Ilmu Keteknikan Pertanian IPB, serta pembentukan rumpun Departemen Teknik di IPB.

Dalam bidang keprofesian, menjabat Ketua HIPI/ ISAI (Himpunan Informatikan Pertanian Indonesia/Indonesian Society of Agriculture Informatics) , presiden AFITA (Asian Federation for Information Technology in Agriculture), dan anggota PERTETA (Perhimpunan Teknik Pertanian/ Indonesian Society of Agricultural Engineering).

Kesempatan menggali ilmu yang sangat berharga adalah kesempatan menimba dan mendalami ilmu agama khususnya Al-Qur’an baik dalam  membaca dan mengkajinya sejak tahun 1996 hingga saat ini. Melalui bimbingan guru-guru yang yang bersahaja (tawadhu’) dalam ketinggian ilmunya yang salah satunya berperingkat hafiz (penghafal Al-Qur’an) tanpa meninggalkan profesi sebagai akademisi, peneliti, dan pendidik.
SUMBER BIODATA:
http://kseminar.staff.ipb.ac.id/biodata/